Jumat, 13 Agustus 2010

SIAPA 200 KOLEKTOR TOP DUNIA ?



Siapa 200 Kolektor Top Dunia? Fajar Sutardi dikutip IndonesianArtNews
 MAJALAH seni rupa Amerika Serikat, Artnews, mengeluarkan daftar 200 kolektor papan atas dan paling aktif dalam membelanjakan uangnya untuk mengoleksi karya seni rupa. Daftar yang termuat dalam Artnews edisi bulan Juli 2010 itu juga menyebutkan Top Ten atau 10 Besar kolektor dunia di antara 200 nama tersebut.

Dalam Top Ten itu terdapat nama-nama popular seperti Roman Abramovich, pengusaha minyak asal Rusia yang juga pemilik kesebelasan juara Liga Primer Inggris 2009-2010, F.C. Chelsea. Juga ada nama trilyuner Qatar, Sheikh Saud bin Mohammad bin Ali al-Thani, yang kini begitu ambisius ingin membesarkan kesebelasan Manchester City, Inggris. Nama lain dalam daftar itu adalah pasangan Alexandra & Steven A. Cohen, yang menurut majalah Forbes, kekayaannya pada tahun 2009 mencapai $ 5,5 milyar dan menjadi orang terkaya dunia urutan ke-87. Lalu pengusaha tajir Perancis, Francois Pinault yang memiliki asset hingga $ 16,9 milyar dan merupakan orang terkaya sejagad urutan ke-39. Juga ada nama-nama Helena & Bernard Arnauld, Debra & Leon Black, Edythe L. & Eli Broad, dan Emily & Mitchell Rales. Tentu, ada pula nama pengusaha asal Hongkong yang pada 7 November 2007 lalu pernah membeli lukisan Paul Gauguin, Te Poipoi, seharga $ 39,2 juta dibalai lelang Sotheby.

Daftar 200 nama kolektor top dunia ini memang tak banyak berubah dari daftar serupa yang pernah dirilis oleh majalah Artnews sekitar 3-4 tahun lalu. Dominasi para kolektor Amerika Serikat dan Eropa masih sangat kuat dalam daftar itu ketimbang para kolektor dari kawasan lain. Setidaknya ada sekitar 105 kolektor Amerika Serikat. Lalu dari kawasan benua Eropa sekitar 73 nama, Asia 7 nama, dan sisanya dari kawasan Kanada dan Amerika Tengah serta Amerika Latin. Tak ada nama dari kawasan Afrika maupun Australia.

Hal yang juga tak kalah menarik untuk disimak dari daftar tersebut adalah deretan nama-nama penting yang barangkali bisa dijadikan semacam pembelajaran bagi para banyak kalangan di Indonesia yang berpotensi untuk menjadi kolektor karya seni. Di situ ada nama seniman level top dunia, Damien Hirst, yang ternyata telah menghabiskan begitu banyak uangnya untuk berbelanja karya seni (seniman lain). Ternyata dia tidak egosentris dengan hanya memajang karyanya sendiri. Atau juga pemimpin enclave state Liechtenstein, Princess Marie and Prince Hans-Adam II von und zu Liechtenstein, yang banyak berburu karya-karya old masters. Prince Hans-Adam II adalah juga pemilik grup perbankan LGT dengan asset sekitar $ 2 milyar yang menjadikannya menjadi salah satu pemimpin negara berkekayaan terbesar di dunia. (Sebagai catatan kecil, Liechtenstein adalah negara mungil yang ‘dikepung’ Swiss dan Austria dengan luas sekitar 160 km² dan berpopulasi penduduk 35.000. Bandingkan dengan propinsi DKI Jakarta yang luasnya 740,29  km² dengan jumlah penduduk 8.860.381 jiwa).

Nama-nama lain yang sangat populer di dunia yang ada dalam daftar 200 kolektor dunia antara lain pengusaha Ukraina, Victor Pinchuk, yang pada perkembangannya bahkan menyelenggarakan sebuah award seni dengan memakai nama keluarganya, Pinchuk. Juga ada nama Benedikt Taschen yang sangat terkenal sebagai pengusaha penerbitan berlabel Taschen. Atau pengusaha advertising, Charles Saatchi, yang begitu mendunia galeri dan private museum-nya. Dan masih banyak lagi nama-nama populer dalam dunia bisnis.

Namun dari deretan nama-nama tersebut, nyaris tak ada nama kolektor yang berbasis di China atau berasal dari China. Padahal pada perkembangan 10 tahun terakhir ini gerak kolektor China cukup terasa agresivitasnya dalam berbagai kesempatan, seperti dalam berbagai kesempatan pelelangan berlevel dunia. Entahlah. Mungkin memang seperti inilah faktanya. Atau, barangkali karena yang membuat dan merilis daftar ini adalah majalah yang berbasis di Amerika Serikat, maka—sangat dimungkinkan—ada semacam politisasi dalam penyusunan nama-nama tersebut untuk tetap mengunggulkan yang Amerika Serikat dan mengabaikan the other-nya. Apalagi menyebut nama-nama kolektor dari Indonesia. Ah, kalau yang ini, mungkin memang belum levelnya. Siapa tahu?

Berikut ini daftar 200 nama kolektor kelas dunia tersebut. (Nama, tempat tinggal, basis bisnis, kecenderungan koleksi karya).

Juan Abelló
Madrid
Finance and Industry
Spanish Old Masters; modern and contemporary art, especially Spanish

Roman Abramovich
Moscow
Steel, mining, investments, and professional soccer (Chelsea Football Club)
Modern and contemporary art

Barbara and Ted Alfond
Weston, Massachusetts; Vail, Colorado
Fashion (retired)
American art and furniture

Paul Allen
Seattle
Computer software and sports franchises
Impressionism; Old Masters; modern and contemporary art; tribal art

Plácido Arango
Valdemorillo (Madrid), Spain
Retail
Spanish Old Masters; modern and contemporary art

Hélène and Bernard Arnault
Paris
Luxury goods (LVMH)
Contemporary art

Laura and John Arnold
Houston
Hedge fund
Impressionism; postwar and contemporary art

Hans Rasmus Astrup
Oslo
Shipping-related activities
Contemporary art

Maria Baibakova and Oleg Baybakov
Moscow
Inheritance and mining industries
Contemporary art

Cristina and Thomas W. Bechtler-Lanfranconi
Zurich
Investments and real estate
Contemporary art; photography

Maria and William Bell Jr.
Los Angeles
Television production
Modern and contemporary art

Debra and Leon Black
New York
Investment banking
Old Masters; Impressionism; modern painting; Chinese sculpture; contemporary art

Neil G. Bluhm
Chicago
Real estate
Contemporary art

Christian Boros
Berlin and Wuppertal, Germany
Communications and new media
Contemporary art

Frances Bowes
San Francisco and Sonoma, California; New York
Investments
Contemporary art

Irma and Norman Braman
Miami Beach
Automobile dealerships
Modern and contemporary art, especially American

Udo Brandhorst
Cologne, Germany
Insurance
Contemporary art

Peter M. Brant
Greenwich, Connecticut
Newsprint manufacturing
Contemporary art; design; furniture

Edythe L. and Eli Broad
Los Angeles
Financial services and housing development (retired)
Contemporary art

Cees and Inge de Bruin-Heijn
Wassenaar, the Netherlands
Investments
Contemporary art

Donald L. Bryant Jr.
New York; Saint Louis
Executive and employee benefits
American masters of the second half of the 20th century; Abstract Expressionism, especially de Kooning; contemporary art

Melva Bucksbaum and Raymond Learsy
Connecticut; Colorado; New York
Inheritance (shopping malls) and commodities trading
Contemporary art

Frieder Burda
Baden-Baden, Germany
Publishing
Modern and contemporary art, especially German Expressionism

Monique and Max Burger
Hong Kong
Investments
Post-1990s art

Peggy and Ralph Burnet
Wayzata, Minnesota
Real estate
Contemporary British art (YBAs); emerging artists

Joop van Caldenborgh
Wassenaar, the Netherlands
Chemical industry (Caldic)
Modern and contemporary art, especially Conceptual; photography; sculpture

Mickey Cartin
New York; Delray Beach, Florida
Investments
Late medieval and Early Renaissance painting; 20th-century painting; emerging artists; illuminated manuscripts

Ella Fontanals Cisneros
Miami; Madrid; Gstaad, Switzerland
Investments, real estate, and telecommunications
Contemporary art, video, and photography, with an emphasis on architecture; historical geometric abstraction from Latin America

Patricia Phelps de Cisneros and Gustavo A. Cisneros
Caracas, Venezuela; Dominican Republic; New York
Media, entertainment, and telecommunications
Modern and contemporary Latin American, European, and North American art; colonial and Federalist furniture; decorative art from the Ibero-American world; Amazonian ethnographic objects

Alexandra and Steven A. Cohen
Greenwich, Connecticut
Hedge fund
Impressionism; modern and contemporary art

Cherryl and Frank Cohen
Manchester, England
Home-improvement stores
Contemporary art; modern British art

Eileen and Michael Cohen
New York
Packaging and paper products
Contemporary art, especially video

Marijke and Willem Cordia
New York; Switzerland
Shipping, oil and gas, industry
20th-century and contemporary painting, drawings, and sculpture

Eduardo F. Costantini
Buenos Aires
Asset management and real estate
Contemporary art

Rosa and Carlos de la Cruz
Key Biscayne, Florida
Coca-Cola bottling in Puerto Rico and the Caribbean
Contemporary art

Dimitris Daskalopoulos
Athens
Financial services and investment company (Damma Holdings SA)
Contemporary art, especially large-scale installations; sculpture, drawings, collage, film, and video

Hélène and Michel Alexandre David-Weill
Paris and Cap d’Antibes, France; New York
Banking
17th-, 18th-, and 19th-century French painting

Philippe Decelle
Brussels
Construction
Plastic design, especially Pop furniture made between 1960 and 1973

Beth Rudin DeWoody
New York and Southampton, New York; West Palm Beach, Florida
Real estate
Modern and contemporary art

Ulla Dreyfus-Best
Binningen and Gstaad, Switzerland
Inheritance
Old Master painting and drawings; Symbolism; Surrealism; contemporary art

Stefan T. Edlis and H. Gael Neeson
Chicago; Aspen, Colorado
Plastics manufacturing (retired)
Contemporary art

Agnes and Karlheinz Essl
Vienna and Klosterneuburg, Austria
Retail (bauMax)
Contemporary art, especially Austrian painting

Harald Falckenberg
Hamburg, Germany
Law practice and oil equipment
Contemporary German and American art

Frank J. Fertitta III and Lorenzo Fertitta
Las Vegas
Casinos (Station Casinos) and professional fighting (Ultimate Fighting Championship)
Modern and contemporary art

Daniel Filipacchi
Paris; New York
Publishing
Modern art, especially Surrealism

Aaron I. Fleischman
Washington, D.C.
Law practice
Modern and contemporary art

Maxine and Stuart Frankel
Bloomfield Hills, Michigan
Real estate
Minimalism; abstract art; ceramics; new-media art

Anna and Josef Froehlich
Stuttgart, Germany
Automobile industry
Contemporary art, especially German and American

Amanda and Glenn R. Fuhrman
New York
Investments (MSD Capital)
Contemporary art

Soichiro Fukutake
Okayama, Japan
Publishing
Impressionism; contemporary art

Antoine de Galbert
Paris
Inheritance
Primitive art; contemporary art

Danielle and David Ganek
New York
Hedge fund
Contemporary art and photography

Garza Sada family
Monterrey, Mexico
Beer, glass, and bottling
Contemporary art; 20th-century Mexican art

Princess Gloria von Thurn und Taxis
Regensburg, Germany
Inheritance and investments
Contemporary art

Ingvild Goetz
Munich
Inheritance (mail-order company)
Contemporary art

Carol and Arthur Goldberg
New York
Investment banking (retired)
Contemporary art

Giuliano Gori
Pistoia, Italy
Textile brokerage
Modern and contemporary art; site-specific art

Noam Gottesman
New York
Hedge fund
Postwar and contemporary art

Laurence Graff
Gstaad, Switzerland
Jewelry
Modern and contemporary art

Esther Grether
Basel, Switzerland
Pharmaceuticals and cosmetics distribution
Modern and contemporary art

Anne and Kenneth C. Griffin
Chicago
Hedge fund
Impressionism; Post-Impressionism

Agnes Gund
New York; Peninsula, Ohio; Kent, Connecticut
Inheritance
Modern and contemporary art

Francesca von Habsburg
Vienna
Inheritance
Contemporary art

Christine and Andrew Hall
Westport, Connecticut
Commodities trading
Contemporary art, especially German

Diane and Bruce Halle
Arizona; Colorado
Tires (Discount Tire Company)
Latin American art; contemporary sculpture

Princess Marie and Prince Hans-Adam II von und zu Liechtenstein
Vaduz, Liechtenstein
Inheritance
Old Masters

Elizabeth and Richard Hedreen
Seattle
Real estate
Modern and contemporary art

Ydessa Hendeles
Toronto
Investments
Contemporary art; photography

Annick and Anton Herbert
Ghent, Belgium
Textile machinery
Contemporary art, especially Conceptual, Minimalism, arte povera, and 1980s

Donald Hess
Bolligen-Bern, Switzerland
Vineyards and properties
Contemporary art

Marieluise Hessel
Jackson, Wyoming
Investments
Contemporary art

Janine and J. Tomilson Hill
New York
Investment banking
Postwar American and European art; Renaissance bronzes

Damien Hirst
London and Devon, England; Mexico
Art practice
Modern and contemporary art

Marguerite Hoffman
Dallas
Soft-drink bottling
Postwar American and European art; Chinese monochromes

Erika Hoffmann
Berlin
Fashion
Contemporary art

Susan and Michael Hort
New York; New Jersey
Printing
Contemporary art

Frank Huang
Taipei, Taiwan
Computer hardware
Chinese porcelain; Impressionist and modern painting

Dakis Joannou
Athens
Construction
Contemporary art

Edward C. Johnson III
Boston
Financial services (Fidelity Investments)
19th- and 20th-century painting and furniture

Ingrid and Hugo Jung
Aachen, Germany
Medical practice
Postwar and contemporary art

Nasser David Khalili
London
Real estate and investments
Islamic art; Japanese art of the Meiji period; Swedish textiles; Spanish metalwork; enamels

Kim Chang-Il
Cheonan, South Korea
Property development, retail, and transportation
Contemporary art

Jeanne and Michael L. Klein
Austin, Texas; Santa Fe
Oil and gas exploration and production
Postwar and contemporary art

Uli Knecht
Stuttgart, Germany
Fashion design and retail
Contemporary art, especially Pop and German

Alicia Koplowitz
Madrid
Real estate and investments
Old Masters; modern art

Pamela and Richard Kramlich
San Francisco
Venture capital
Contemporary art, especially video and film

Jill and Peter Kraus
New York and Dutchess County, New York
Investment management (Alliance Bernstein)
Contemporary art

Marie-Josée and Henry R. Kravis
New York; Vail, Colorado
Finance and investments
Modern and contemporary art; French furniture

Catherine and Pierre Lagrange
London
Hedge fund
Postwar and contemporary art

Barbara and Jon Landau
New York
Entertainment
Renaissance painting and sculpture; 19th-century French and English painting

Emily Fisher Landau
New York; Palm Beach, Florida
Real estate
Contemporary American art

Joseph Lau
Hong Kong
Real estate
Modern and contemporary art, especially Warhol

Evelyn and Leonard Lauder
New York; Aspen, Colorado
Cosmetics (Estee Lauder)
Modern art, especially Cubism

Jo Carole and Ronald S. Lauder
New York and Wainscott, New York; Washington, D.C.; Palm Beach, Florida; Paris
Cosmetics (Estee Lauder)
Late-19th- and early-20th-century art, especially German and Austrian; decorative art; medieval art; arms and armor

Barbara Lee
Cambridge, Massachusetts
Investments
Contemporary art by women

Thomas H. Lee and Ann Tenenbaum
New York and East Hampton, New York; Lincoln, Massachusetts; Palm Beach, Florida
Investment banking
Modern and contemporary art; photography

Elisabeth and Rudolf Leopold
Vienna
Ophthalmology (retired)
German and Austrian Expressionism, especially Schiele; Art Nouveau, mainly Austrian

Joseph Lewis
Nassau, the Bahamas
Real estate and investments
Impressionism; modern art

Mimi and Filiep Libeert
Kortrijk, Belgium
Textiles
Modern and contemporary art

Adam Lindemann and Amalia Dayan
New York
Private investments
Contemporary art; African art; 20th-century design

Andrew Lloyd Webber
London and Berkshire, England; New York
Entertainment
18th-, 19th-, and 20th-century British and American painting, especially Pre-Raphaelite; German Expressionism

Margaret Munzer Loeb and Daniel S. Loeb
New York and East Hampton, New York
Hedge fund
Postwar and contemporary art; feminist art

Eugenio López Alonso
Mexico City; Los Angeles
Beverages (Jumex)
Contemporary art

Paula and Peter H. Lunder
Florida
Fashion
American Impressionism; modernism; 19th-century and Western art

Ninah and Michael Lynne
New York
Film production (unique features)
Contemporary art

Linda and Harry Macklowe
New York
Real estate
Contemporary art

Susan and John Magnier
County Tipperary, Ireland; Geneva; Marbella, Spain; Barbados
Horse breeding and investments
18th-century British painting; 20th-century Irish art; equestrian art; modern art

Nancy and Robert Magoon
Aspen, Colorado
Medical practice and real estate
Contemporary art

Sherry and Joel Mallin
New York and Pound Ridge, New York
Investments
Modern and contemporary art, especially sculpture

Martin Z. Margulies
Key Biscayne, Florida
Real estate
Modern and contemporary art; photography

Anne and John Marion
Fort Worth; Santa Fe; Palm Springs, California; Jackson Hole, Wyoming
Oil (Burnett Oil Company) and ranches (Burnett Ranches)
17th- and 18th-century European art; modern and contemporary art; Taos art

Donald B. Marron
New York
Private equity
Modern and contemporary art

David Martinez
London; New York
Investment management (Fintech Advisory)
Modern and contemporary art

Dinos Martinos
Piraeus, Greece
Shipping
Antiquities; modern and contemporary art; icons

Susan and Larry Marx
Aspen, Colorado; Marina del Rey, California
Investments and real estate (retired)
Postwar and contemporary art, especially Abstract Expressionism and works on paper

Frances G. and James W. McGlothlin
Austin, Texas; Naples, Florida; Bristol, Virginia
Financial services, oil and gas, industrial-supply distribution, and golf courses
19th- and early-20th-century American art, especially American Impressionism

Henry S. McNeil
Philadelphia
Investments
Contemporary art, especially Minimalism

Gabrielle and Werner Merzbacher
Zurich
Fur trading and finance
20th-century art, especially Fauvism and German Expressionism

John S. Middleton
Philadelphia
Manufacturing
19th- and 20th-century American art

Julie and Edward J. Minskoff
New York
Real estate
Postwar, Pop, and contemporary American and European art

Hubert Neumann
New York
Investments
Contemporary art, especially young artists

Victoria and Samuel I. Newhouse Jr.
New York
Publishing
Modern and contemporary art

Philip S. Niarchos
Paris; London; Saint Moritz, Switzerland
Shipping and finance
Old Masters; Impressionism; modern and contemporary art

Peter Norton
Santa Monica, California; New York
Computer software
Contemporary art

Maja Oeri and Hans U. Bodenmann
Basel, Switzerland
Inheritance (pharmaceuticals)
Contemporary art

Thomas Olbricht
Essen, Germany
Inheritance (beauty products), medical practice, and investments
Modern and contemporary art; Wunderkammer objects

Ovitz family
Los Angeles
Entertainment, finance, and investments
Contemporary art; Ming furniture; modern painting; African art

Mary and John Pappajohn
Des Moines, Iowa; New York
Venture capital
Modern and contemporary art

Bernardo Paz
Brumadinho, Minas Gerais, Brazil
Mining
Contemporary art

Marsha and Jeffrey Perelman
Wynnewood, Pennsylvania
Dental and gardening equipment
Postwar and contemporary art

Amy and John Phelan
New York; Aspen, Colorado
Investments (MSD Capital)
Contemporary art

François Pinault
Paris
Luxury goods (PPR) and auctions (Christie’s)
Contemporary art

Victor Pinchuk
Kiev, Ukraine
Investment Advisory group (EastOne Group)
Contemporary art

Ron Pizzuti
Orlando, Florida; New York; Columbus, Ohio
Real estate development (the Pizzuti companies)
Modern and contemporary art and design

Elizabeth and Harvey Plotnick
Chicago
Publishing and investments
Old Master prints; Islamic ceramics

Miuccia Prada and Patrizio Bertelli
Milan
Fashion
Contemporary art

Véronique and Louis-Antoine Prat
Paris
Inheritance (manufacturing)
17th-, 18th-, and 19th-century French drawings

Lisa S. and John A. Pritzker
San Francisco
Hotels and investments
Photography

Penny Pritzker and Bryan Traubert
Chicago
Real estate, hotels (Hyatt), and financial information
Contemporary art

Emily Rauh Pulitzer
Saint Louis
Inheritance (media)
Cubism; Post-Impressionism; Abstract Expressionism

Cindy and Howard Rachofsky
Dallas
Investments
Contemporary art

Emily and Mitchell Rales
Potomac, Maryland; New York
Tool industry
Modern and contemporary art

Steven Rales
Washington, D.C.
Tool industry
Impressionism; modern and contemporary art

Patrizia Sandretto Re Rebaudengo
Turin, Italy
Industrial manufacturing
Contemporary art

Louise and Leonard Riggio
New York and Bridgehampton, New York
Retail (Barnes & Noble)
Modern and contemporary art

Ellen and Michael Ringier
Zurich
Publishing
Contemporary art; Russian avant-garde art

Inge Rodenstock
Grünewald, Germany
Inheritance
Contemporary German, American, and British art

Deedie and Rusty Rose
Dallas
Investments
Contemporary American, South American, and German art

Aby J. Rosen
New York and Southampton, New York
Real estate
Modern and contemporary art; contemporary photography

Eric de Rothschild
Paris and Pauillac, France
Banking
Old Masters; modern and contemporary art

Mera and Donald Rubell
Miami; New York; Washington
Medical practice (retired), education, real estate, and hotels; own public contemporary-art foundation
Contemporary art

Betty and Isaac Rudman
Dominican Republic
Imports and manufacturing (home appliances)
Latin American art; numismatics; pre-Columbian art

Charles Saatchi
London
Advertising
Contemporary art, especially British

Lily Safra
London
Inheritance
19th- and 20th-century art

Sainsbury family
London
Supermarkets
Impressionism; modern and contemporary art

Ida and Piet Sanders
Schiedam, the Netherlands
Law practice (retired)
Modern and contemporary art, especially sculpture; African art

Jeannette and Martijn Sanders
Aerdenhout, the Netherlands
Orchestra management (Concertgebouw)
Post-1980s American and European art

Marieke and Pieter Sanders Jr.
Aerdenhout, the Netherlands
Corporate law practice
Dutch art; sculpture; contemporary

Senin, 05 Juli 2010

Biodata Peserta Pameran eDu Art Expo 2010 Taman Budaya Surakarta, 18 - 24 Juli 2010


FADJAR SOETARDHI

Lahir                            :           Sragen, 16 April 1960
Pendidikan                   :     -     Seni Rupa IKIP Karangmalang, Yogyakarta(1983)
-          Program Pelatihan Sendratasik IKIP Semarang ( 1996 )
-          Seni Rupa UNS Surakarta ( 2000 )


Aktivitas Pameran        :     

2010 : Pameran Seni Rupa eDu Art Expo 2010 Solo-Yogja di Taman Budaya Surakarta. Pameran Seni Rupa Islami Kedekatan Hati, dalam Muktamar Satu Abad, di Student Center UMY Yogjakarta. ). Pameran Visual Art Exibhition Kakawin Kawin Komunitas Pintu Mati, di Taman Budaya Surakarta ( TBS ). Pameran Bersama FKSI Balai Pemuda Surabaya.
2009 : Pameran WONG JAWA ILANG JAWANE Si Balai Soedjatmoko Solo. Pameran Komunitas Pintu Mati NEGERI BADUT diTaman Budaya Surakarta
2008 : Pameran Akhir Tahun Perupa se-Eks Karesidenan Surakarta di TBS. Pameran Seni Rupa Exit : ( Eks-Situs ) Ikapsera FKIP UNS di TBS. Pameran Seni Rupa IKAPSERA FKIP UNS di City Walk Solo. Pameran Seni Rupa Art-Edu[Cation] Dies Natalis UNS di TBS. Pameran Seni Rupa 8 Tahun KONTEMPLASTIK Komunitas Pintu Mati Solo, di TBS.
2007 : Pameran Seni Rupa FREEDOM TEXT Komunitas Oranye di Taman Budaya Surakarta. Pameran Tunggal Drawing Kaligrafi DRAW HIMNELOVE Balai Soedjatmoko,Agustus 2007 (2007).
2006 : Pameran Seni Patung RICARICARI Student Centre UNS,Solo. Pameran Bersama Perupa se Ex-Surakarta,TBS. Pameran Seni Rupa RAMPOGAN 45 Pelukis Yogya Solo, di Taman Budaya Surakarta. Pameran Tunggal Kaligrafi FAJAR SUTARDI  dalam Art Living In Allah di Taman Budaya Surakarta. Pameran Seni Rupa ART ABOUNDANT IN LOVE Komunitas PINTU MATI di TBS.
2004 : Pameran Seni Rupa Kelompok HIMPAS Sragen di Gedung Teater Besar STSI Surakarta. Pameran Seni Rupa KONTEMLASTIK Komunitas PINTU MATI di Balai Soedjatmoko Toko Buku Gramedia Surakarta. Pameran Lukisan dan Patung Jawa Tengah di Taman Budaya Surakarta.
2003 : Pameran Lukisan Akhir Tahun 2003 se-Eks KaresidenanSurakarta di TBS. Pameran Seni Rupa Kelompok HIMPAS Sragen di TBS. Pameran Seni Rupa Komunitas PINTU MATI di Balai Pemuda DKS Surabaya. Pameran seni Rupa Komunitas PINTU MATI di TBS. Pameran Seni Lukis Kreasi Seni RupaAnak Bangsa di Sragen
2001 : Pameran Seni Rupa Islami dalam rangka Maulud Nabi SAW di STSI Surakarta.
2000 : Pameran Seni Rupa Komunitas PINTU MATI Surakarta di TBS. Pameran Seni Rupa Dies Natalis ke XXXIV STSI Surakarta.
1999 : Pameran Tugas Akhir Mahasiswa Seni Rupa FKIP UNS dalam Kelompok KONGAN di KWU UNS
1998 : Pameran Bersama dalam Musywil Pemuda Muhammadiyah se-Jawa Tengah di Sragen
1997 : Pameran Bersama Pesona Seni Rupa Syahadatain di Masjid Agung Surakarta
1996 :Pameran Gerak Spiritual Seni Rupa dan Teater di Clupak,Mojopuro Sumberlawang Sragen. Pameran Tunggal dalam Muscab Muhammmadiyah Cabang Sumberlawang, Sragen
1986 : Pameran Lustrum III SMP Negeri 2 Ngawen  Gunungkidul Yogjakarta
1987 : Pameran Pembangunan di Balai Desa Kampung, Ngawen Gunungkidul, Yogjakarta
1984 : Pameran Bersama Mahasiswa Seni Rupa KKN UNS di Pendopo Kec.Sumberlawang, Sragen
1983 : Pameran Bersama Mahasiswa Seni Rupa IKIP Karang Malang, di Gedung Karta Pustaka, Yogjakarta


Alamat                          :          FADJAR SOETARDI
                                               Sanggar Seni Dialog Bumi Pranata
                                                Clupak RT.25/VII,Mojopuro,Sumberlawang,Sragen
                                                57272 HP.081329098293.
                                                Email : fajarredisutta_bumipranata@yahoo.com
                                                Blog : pintu.Mati@gmail.com.
                                                           






 Grafilove
Fadjar Soetardi dan Siswa Klas 9 SMP N 1 Sumberlawang, Sragen
140 x 210 x 6 pct
Mixed media on canvas
2010


Minggu, 04 Juli 2010

PAMERAN KALIGRAFI DRAW HYMNE OF LOVE FADJAR SUTARDI MENCOBA JADI MUADZIN



SUNGGUH ini adalah sebuah keniscayaan. Ketika kertas-kertas putih itu mampu mengeja nama-nama Tuhan, layaknya bertasbih bersama dalam genderang idiom-idiom pedesaan yang serasi. Ya, kendati hanya hitam-putih, namun justru itulah kekuatan yang sedang ditata Fadjar Sutardi (47), saat merangkai kalimat ilahiah dalam pameran tunggal bertajuk Draw Hymne Love, di Balai Sudjatmoko, Gramedia, Solo, yang digelar Jumat-Rabu (10-15/8) lalu.Pak Fadjar, begitu dia biasa dipanggil, memang tengah mengeja nama-nama Tuhan dalam deformasi visual kaligrafi nan menyejukkan.
Betapa tidak, dia telah melakukan sublimasi terhadap ranah di kampungnya, yang justru kaya akan simbol, di mana dia bisa membumikan karya itu menjadi lebih dekat dengan kita.

Seniman yang juga guru Seni Rupa dibeberapa sekolah menengah di Sragen itu, ternyata begitu cekatan merangkai nama Tuhannya, yang terkadang begitu sederhana, namun ada kedalaman makna yang justru luar biasa. Jika kita melihat kebanyakan lukisan bernafas kaligrafi, bisa jadi mata kita akan lelah, lantaran melihat banyaknya kemauan yang ingin disampaikan pelukis. Belum lagi rumitnya visual kaligrafi itu sendiri.

Namun di tangan Fadjar Sutardi, asma-asma Tuhan itu begitu simpel dilafalkan dalam zikir lukisannya. Di sisi lain, barangkali kita akan mengernyitkan kening lebih dulu, ketika melihat sekitar 34 lukisan hitam-putih itu dipajang. Karena memang harus mengeja nama-nama Sang Penguasa jagad raya itu, yang disublimasikan lewat anyaman, rajutan, kain-kain draperi serta lempengan-lempengan logam.
Surau batin
Namun sesungguhnya Fadjar Sutardi telah menuntun, sekaligus mengajari kita semua, bagaimana mengeja nama-nama Tuhan itu menjadi lebih impresif dan dimaknai di dalam lubuk hati.

’’Kertas-kertas itu mengingatkan saya pada sukhuf atau lembaran-lembaran wahyu ilahi, yang setelah dikumpulkan menjadi mushaf Alquran. Saya hanya mencoba menjembatani, membumikan asma-asma Tuhan dan Rasul-Nya itu, dengan mencoba untuk berkomunikasi dalam media yang berbeda,’’ katanya merendah.

Lepas dari berbagai ”alasan” seperti itu, telah setahun ini dirinya tak bisa membeli cat minyak atau pun kanvas. Fajar Sutardi sesungguhnya telah mengajak kita untuk menengok kembali ”surau-surau” batin kita, yang telah mulai kosong. Ya, surau-surau itu bisa jadi hanya tinggal sajadah usang penuh debu. Dan Fadjar Sutardi, kini telah mencoba membersihkan surau itu. Kini dia telah berdiri sebagai muazin, meski tak bersuara lantang, namun dia telah mengingatkan kita untuk segera kembali kepada-Nya. Sungguh! 
Nurul Huda/Am. Harian Wawasan : 18 Agustus 2007

SENI LUKIS KACA : BELUM BUMING, TETAPI TELAH LAMA MEMBUMI



Pengawal kalam

Perihal tentang keberadaan seni lukis kaca kembali mengusik pikiran penulis, ketika disuatu hari penulis mendengarkan cerita seorang pelukis yang kebetulan kedatangan calon pembeli atau mungkin pedagang lukisan dari kota bertandang ke sanggarnya. Setelah melihat-lihat diruang pajang dirumahnya yang tidak begitu luas, pembeli tadi kemudian menawar beberapa lukisan yang terbuat dari media kanvas dan kertas untuk dibawa kekota. Setelah terjadi tawar menawar, dan disetujui harganya, kemudian pelukis tersebut juga menawarkan lukisan kaca karyanya. Rupanya, pelukis tersebut selain membuat lukisan dari kanvas dan kertas, juga membuat lukisan dari bahan kaca. Saat ditawari lukisan kaca, pembeli atau pedagang tersebut menyatakan tidak begitu tertarik, karena menurutnya tidak banyak yang orang mau mengkoleksi karya lukis kaca, dengan alasan karena bahannya mudah dan rawan pecah, apalagi kalau pembelinya orang asing, nantinya bisa kerepotan dalam perjalanannya walau secara visual karya lukis kaca tidak kalah dengan media lainnya. Pelukis tadi mengangguk-angguk, seperti orang bodoh-walaupun hatinya menolak, dengan mengatakan justru yang bodoh adalah pembeli tersebut. Singkat cerita, lukisan kaca tidak dibeli dan pembeli lukisan tersebut malah menyarankan kepadanya, agar membuat lukisan dari kanvas saja dan tidak dari kaca.

Inilah sedikit gambaran kenyataan pahit yang dirasakan pelukis kaca tersebut, kejadian menggelikan dan terasa lucu tersebut kemungkinan hanya pernah berlaku pada satu dua pelukis kaca ditanah air termasuk teman penulis tadi, walau pada kenyataannya banyak juga pelukis kaca yang sampai hari ini tetap hidup dengan sejahtera, dari hasil karya lukis kacanya tersebut, seperti kesejahteraan hidup yang dialami para pelukis kaca didaerah Cirebon, komunitas pelukis kaca Nagashepa di Buleleng Bali, juga pelukis kaca di wilayah lain seperti di Jakarta, Bekasi, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Magelang, Muntilan, Bantul, Surakarta, Kudus, Tuban, Madura, Pasuruan, Surabaya dan mungkin di tempat-tempat lain. Di Sumatera lukisan kaca juga tumbuh dengan baik, seperti dipraktekkan di Bengkulu (terutama Tebat Monok, Keban Agung, dan Batu Bandung), Medan, Banda Aceh, dan beberapa dan sebagainya.

Seni lukis kaca, diakui atau tidak, sebenarnya telah menjadi sebuah kenyataan sejarah, yang lahir dan merambah dibelahan dunia kita ini, taruhlah seperti berkembangnya lukis kaca di Italia, daratan China, Jepang, Iran, India dan termasuk di Indonesia. Sanento Yuliman pernah mencatat tentang tuanya sejarah seni lukis kaca di dunia, ia menuturkan bahwa lempengan kaca pertama ditemukan oleh orang Italia pada abad ke-14. Orang Italia ini pula yang menemukan cat untuk media kaca. Berkat temuan tersebut kemudian lahirlah karya-karya seni lukis kaca, yang berawal dari Italia kemudian menyebar ke berbagai negeri. Sampai pada abad ke-17 atau abad ke-18 lukisan kaca diperkirakan menyebar ke Iran, India, Cina, Jepang, dan kemudian ke Indonesia. Kenyataan sejarah inilah, yang menjadikan “kekuatan” bagi para pelukis kaca untuk tetap bertahan hidup dari kaca tersebut.

Di era zaman ini, dimana kesenian sangatlah bebas bergandengan tangan dengan media ungkap apa saja tanpa ada pembatasnya, sudah barang tentu dengan melihat kenyataan sejarah diatas, sebenarnya media kaca tidaklah berkelas rendah seperti yang dikatakan pembeli lukisan tersebut, justru diharapkan media kaca dapat ikut dimanfaatkan oleh perupa modern untuk melengkapi rupa-rupa media yang dewasa ini digarap oleh para kreator seni rupa. Artinya, sudah saatnya seni lukis kaca tidak dianggap sebagai karya kerajinan, karya yang “ndeso”.

Seni lukis kaca, telah lama membumi di Indonesia

Dari pembacaan sejarah, lukisan kaca belum diketahui secara pasti kapan mulai masuk ke Indonesia dan dari mana asal teknik melukis kaca, dan memang masih perlu diadakan penelitian lebih jauh. Senada dengan pendapat Sanento Yuliman, adalah Hardiman seorang peneliti lukisan kaca di Nagashepa, Bali juga mencatat perjalanan lukis kaca, dikatakan bahwa menurut Jerome Samuel peneliti dari Institut Nasional des Laungues et Civilisations Orientales, Paris, yang pernah melakukan penelitian lukisan kaca di Indonesia, memperkirakan bahwa lukisan kaca paling cepat masuk ke Indonesia pada dasawarsa terakhir abad ke-19. Menurutnya, sampai paruh pertama abad ke-19 kaca masih merupakan sejenis barang atau bahan yang mewah dan sangat mahal, rasa mewah terhadap bahan kaca itu terjadi baik di Indonesia maupun di Asia, termasuk Cina dan Jepang. Jeremo Samuel pernah mencari data tentang kaca dalam arsip laporan tahunan VOC di Batavia, untuk kantor pusat di Amsterdam. Di dalam laporan itu, terdapat beberapa catatan tentang import barang-barang kaca dari Belanda atau Eropa untuk dijual atau diberikan sebagai hadiah kepada raja-raja atau sultan-sultan di Indonesia. Tapi VOC lebih banyak menjual atau memasok kaca ke India, Cina, dan Jepang, Di Indonesia sendiri kaca tetap langka sampai awal abad ke-20, kecuali untuk kalangan terbatas.

Di Jawa, menurut Jerome Samuel, keberadaan lukisan kaca dapat dibuktikan dengan keikutsertaan Jat, seorang pelukis dari Kupang Praupan, Surabaya, yang ikut serta dalam Pasar Malam tahunan di Surabaya, baru pada tahun 1908. Keberadaan tersebut diabadikan dalam foto laporan acara tersebut. Hardiman juga menambahkan bahwa, ada cerita yang berbeda dengan Samuel, yaitu tentang lukis kaca dari pantai Kuta, Bali. Tersebutlah seorang perempuan cantik keturunan Cina. Perempuan nan jelita ini dinikahi laki-laki berkebangsaan Denmark, Mads Lange. Suatu hari, tahun 1884, perempuan cantik ini dilukis dia atas permukaan kaca oleh seorang pelukis Cina. Kemudian hasil lukisan kaca itu, oleh berbagai kalangan dianggap sebagai lukisan kaca pertama yang ditemukan di Indonesia. Kini lukisan tersebut tersimpan di suatu museum di Denmark.

Sejarah lukisan kaca Indonesia, sebagian besar masih tersembunyi. Tetapi pada kenyataannya lukisan kaca di Jawa pernah mengalami masa jaya pada tahun 1930-an hingga akhir 1950-an adalah fakta yang kerap diungkap. Pada masa itu, lukisan kaca bertalian dengan tanda status sosial tertentu. Pemilik lukisan kaca adalah mereka yang sukses berdagang, telah naik haji, atau sekurang-kurangnya telah menikah. Lukisan kaca juga berfungsi sebagai penguat hubungan batin antara pemilik lukisan kaca dengan tokoh wayang dalam lukisan yang dimilikinya. Perlu diketahui tema-tema lukisan kaca yang dikoleksi oleh para orang kaya di Jawa, pada umumnya lukisan Hanoman, Kresna, Bratasena, Semar dan sebagian yang lain tema lukisan diambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata. Selain itu juga ditemukan lukisan berupa dua pengantin, legenda para Nabi, lukisan masjid Demak, kaligrafi Arabeska dan sebagainya.

Dengan tema-tema tersebut lukisan kaca dapat berkembang dengan baik sampai tahun 50-an. Keberlanjutan tema yang disukai masyarakat masih baik, sampai awal tahun 70-an. Mulai tahun 70-an muncul nama-nama pelukis kaca yang cukup dikenal masyarakat, seperti Karto, Sastradiharjo ( Sastra Gambar ), Maryono, Yazid, Maruna, Sudarga, Harun, Rastika dan sebagainya. Selain itu, belakangan muncul nama yang berasal dari kalangan kampus seni juga muncul, seperti Haryadi Suadi, Suatmaji, AB Dwiantoro, Arwin Hidayat, Ismoyo, Supono, Paikun,mahyar, Murjiyanto, Pracoyo, Priyo Sigit, Rohman, Subari dan sebagainya, yang terus ikut menyemarakkan seni lukis kaca sampai jelang tahun 90-an.

Sementara perkembangan seni lukis kaca di Bali, juga kurang lebih sama seperti didaerah lain di Indonesia. Di Bali seni lukis kaca dapat dilacak keberadaannya di wilayah Buleleng, tepatnya di Desa Nagashepa. Dari sana lahir nama-nama besar pelukis kaca seperti Jro Dalang Diah ( pendiri komunitas pelukis kaca Nagashepa), I Kadek Suradi, I Nengah Silib, I Ketut Samudrawan, dan I Ketut Santosa dan sebagainya. Dari aspek kenyataan sejarah inilah lukis kaca berjalan kearah waktu kedepan tiada henti dengan kekuatannya sendiri. Hardiman menuliskan tentang kekuatan lukisan kaca dengan bernas sebagai berikut; Seni lukis kaca adalah benda yang menyimpan muatan hubungan manusia dengan Tuhan. Ia adalah media tentang bagaimana menjalani kehidupan yang benar. Ia adalah refleksi kehidupan manusia. Tegasnya, ia adalah teks budaya kita hari ini. Ia adalah bening. Walaupun, seni lukis kaca yang bening secara fisik dan, terutama, bening secara muatan itu, sampai kini masih belum dianggap berkelas tinggi dan tetap termarjinalkan. Jauh dari pisau-pisau analisis para ktitikus seni, jauh dari gembar-gembor media masa. Jauh dari genggaman para kolektor kakap. Jauh dari angka-angka di Balai Lelang. Lukisan kaca, sekalipun bening, tetap hening. Ia kesepian di tengah-tengah gemuruhnya pasar wacana dan wacana pasar, tetapi tetap hidup membumi walau tidak gemuruh.

Seni Lukis Kaca Indonesia, mengabadikan nilai spiritual dan legenda rakyat jelata

Sanento Yuliman pernah bercerita di beberapa tulisannya mengenai keberadaan seni lukis kaca, bila seseorang mengadakan perjalanan ke wilayah tertentu di Indonesia, ketika diwilayah tersebut ia menemukan seni lukis kaca, berarti ia telah menemukan kehidupan rakyat jelata yang sesungguhnya, sekaligus ia telah menemukan cerita legenda rakyat dan nilai-nilai spiritual yang menjadi pegangan hidup yang bernilai luhur, menurut ukuran masyarakat tersebut. Lukisan kaca telah menjadi milik kelompok rakyat yang membuat dan menikmatinya Sebab sekali lagi citra yang digambarkan dalam seni lukis kaca adalah bagian dari khayal dan angan-angan kolektif rakyat jelata.

Salah satu nilai-nilai luhur dan melegenda, misalnya banyaknya lukisan kaca Indonesia yang berhubungan dengan ajaran-ajaran yang dianut masyarakat, yang kebetulan mereka dibesarkan oleh ajaran Islam. Seperti, nilai spiritulitas kaligrafi Arab memang terdapat di mana-mana, kecuali di daerah Bali, yaitu Buraq – yang menurut ajaran Islam tradisional merupakan gambaran kendaraan Nabi Muhammad ketika di Isra’ dan Mi’rajkan Allah SWT. Buraq diimaginasikan berbentuk kuda bersayap dan berkepala manusia – merupakan lukisan yang banyak digemari didaerah Madura, Kudus, Cirebon, Bengkulu. Begitu pula gambar masjid dapat ditemukan di Tuban, Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Bengkulu. Gambar Macan Ali, juga menjadi nilai legenda kaum Muslimin tradisional, yaitu berupa kaligrafi kalimah syahadat yang membentuk sosok seekor harimau mendekam, cukup diminati di Tuban, Yogyakarta, Surakarta, Cirebon. Di samping gambar-gambar tersebut, di Jawa, tema seni lukis kaca yang melegenda adalah penggambaran tokoh-tokoh wayang kulit, seperti ditemukan di Pasuruan, Tuban, Yogyakarta, Surakarta, Cirebon.

Khususnya seni lukis kaca Cirebon, misalnya, sangat kaya dengan nilai-nilai legenda dan spiritual, misalnya tema paksi naga liman, yaitu gambar kereta berbentuk campuran sosok burung, naga, gajah dan banteng, gambar insan kamil, berbentuk motif bangunan di atas motif wadasan, berisi kaligrafi Arab, penunggang kuda, Gunung Jati (bukit, dengan motif wadasan), perahu (jalinan huruf Arab/Arabeska), malaikat pengawal Nabi, gunungan (terbentuk dari jalinan huruf Arab). Rupanya di Cirebon telah terjadi sinkretisme antara Islam dan Hindu, hal ini dibuktikan dengan banyak terdapat kaligrafi Arab yang digubah menjadi sosok-sosok wayang: Syiwa (Batara Guru), Ganesha, Semar, Togog, Narada, dan lain-lain. Di Cirebon para pelukis banyak yang hidup di lingkungan keraton, walau sebagian besar tersebar di daerah kabupaten bagian selatan, barat, dan utara. Lukisan kaca dapat dilihat di Keraton Keprabonan, Kacirebonan, Kasepuhan, dan Kanoman, juga dalam beberapa koleksi di Lemah Wungkuk. Bukan hanya di sana, tetapi juga tengahan di daerah kabupaten, di pedesaan (Losari, Ambulu, Kali Rahayu, Sumber, Trusmi, Gegesik, Surakerta, Kali Tanjung, Clancang, Gunungjati, Klayan, Kapetakan, Kali Anyar).

Nilai-nilai spiritual dan legenda ikut memperkokoh posisi seni lukis kaca sampai dewasa ini. Memang bertahan pada ranah tradisional, tetapi sebenarnya nilai-nilai tersebut secara non-visual masih aktual. Disinilah sebenarnya kekuatan seni lukis kaca tersebut, dan memang beda dengan seni rupa modern yang cenderung ngepop. Berkenaan dengan kekuatan seni lukis kaca, yang bertemakan mengangkat spiritual dan legenda tersebut, J. H. Hooykaas mengingatkan kita, bahwa karya-karya seni visual kita bermuatan nilai-nilai yang memang diwariskan secara turun temurun.

Menurut Hooykaas, pada tahun 1937 saat konggres philology, yang didalamnya membahas tentang seni lukis tradisional termasuk lukis kaca, Prof. Bolkenstein, salah satu antropolog Belanda memberikan penjelasan bahwa lukisan kaca tradisional memang bertema spiritual dan legenda masyarakat utamanya kaum Muslim Jawa, antara lain : ajaran tentang budi pekerti yang divisualisasikan melalui cerita wayang, visualisasi pengantin Jawa Islam saat akad nikah, gambar-gambar legenda Islam, seperti cerita Sultan Agung dan terbunuhnya Jendral De Kock, kisah Nabi dan Rasul, juga kisah-kisah spiritual legenda masyarakat Jawa.

Mengenai cerita wayang pemvisualan nilai-nilai spiritual Islam Jawa pada lukisan kaca, berupa adegan lakon Dewa Ruci, seperti dialog Bratasena dengan Dewa Ruci, Bratasena membunuh Naga Amarahnya, Bratasena mencari susuhing angin dan sebagainya. Pada tema pengantin baru lukisan divisualisasikan dengan dua pengantin ( wanita dan pria ) dengan pakaian lengkap dalam posisi duduk timpuh, layaknya orang sedang sembahyang. Hal itu mengisyaratkan bahwa menjadi pengantin, haruslah diniati ibadah, ngabekti kepada Tuhan Yang Esa. Pengantin pria memakai kuluk ( kopyah/peci ), sedangkan pengantin wanita memakai kemben dibadannya lengkap dengan cunduk mentul, sisir dikepalanya. Keduanya diluluri atau “diblonyo” lulur boreh berwarna kuning. Model visual, mirip pengantin baru juga dijadikan tema yang menarik, kemiripan tersebut karena juga berbentuk dua sosok wanita dan pria. Tetapi tidak berpakaian lengkap, hanya memakai kemben, dua sosok ini sering disebut Loro Blonyo ( visualisasi dari Dewi Sri dan Sri Sadana ). Lain lagi dengan tema masjid, masjid-masjid yang sering divisualkan yaitu Masjid Sunan Pandanaran atau Sunan Tembayat, digambarkan bahwa Sunan Tembayat, bersama isterinya bermaksud menuju masjid untuk mensyahadatkan Syeh Domba. Sedangkan para wali Sanga, yang sering dijadikan tema lukis kaca, adalah sunan Kalijaga, Ki Ageng Semarang, Baginda Hidir. Yang tidak kalah menarik adalah pemvisualan cerita Nabi Suleman dan Kancil, aneka binatang asuhan Nabi Suleman berkumpul untuk mendapat wejangan tentang tugas para makhluk ciptaanNya.

Kini Seni Lukis Kaca, hidup merana ditengah seni rupa modern Indonesia

Seperti diungkapkan Hardiman, bahwa pada tahun 1950-an hingga akhir tahun 1970-an pasar lukisan kaca masih Berjaya dan banyak diminati; dibeli, dikoleksi oleh kelompok petani kaya, yang mempunyai sawah berhektar-hektar. Para petani yang kaya itu umumnya tinggal di desa-desa di wilayah Kabupaten. Pada waktu itu, para pelukis kaca kerap menjajakan lukisan kaca ke desa-desa di kecamatan, bahkan kelurahan. Tak jarang, petani sukses itu sendiri yang datang ke desa dimana para pelukis kaca berkarya, mereka memesan lukisan kaca dengan tema-tema yang sesuai dengan permintaan. Inilah keadaan, dimana komunikasi antara perupa dan petani ( masyarakat ) menjadi aktif, sehingga untuk memudahkan bagi pelanggan, maka para pelukis membawa karya-karyanya ke pasar, untuk dijualnya didekatkan dengan pembelinya.

Pendekatan komunikasi melalui pasar ini terkait dengan citra status sosial petani (pasar) yang menjadi meningkat dengan memajang lukisan kaca di rumahnya. Khususnya di Bali, lanjut Hardiman, pasar itu kini adalah cerita lama yang telah mati. Pasar seni lukis kaca lama itu kini diganti dengan pasar baru, yang hanya diminati orang asing, itupun orang-orang yang memang mempunyai perhatian terhadap seni tradisi, para peneliti, antropolog, atau seniman yang punya kepentingan khusus dengan lukisan kaca. Dan sedikit kaum intelektual lokal yang mencintai tradisi, yang kemudian mengoleksi lukisan kaca barang satu atau dua lembar saja. Dan pasar baru itupun jumlahnya sungguh amat sedikit, bisa dihitung dengan jari. Di Bali, ingga saat ini komunitas seni lukis kaca yang masih hidup hanyalah di desa Nagasepaha, Buleleng. Di desa yang terletak tujuh kilometer ke arah Timur dari kota Singaraja itu, terdapat belasan pelukis kaca yang aktif berkarya juga berpameran. Namun demikian, seni lukis kaca merekapun suatu saat akan terpinggirkan oleh arus utama seni lukis masa kini. Bahkan medan sosial seni rupa Bali cenderung memosisikan seni lukis kaca sebagai seni nista, seni kelas dua, milik para pengrajin belaka.

Demikian pula keadaan itu, terjadi juga dihampir seluruh pusat-pusat pembuat lukis kaca di Jawa, sebagian besar mereka beralih profesi untuk menjadi petani buruh, merantau di kota atau tetap membuat lukisan bila ada pesanan. Memang ada usaha untuk melestarikan lukis kaca, khususnya lembaga pendidikan seni dengan membuka mata pelajaran seni lukis kaca, seperti di beberapa sekolah menengah seni rupa dan kerajinan, bahkan lembaga pendidikan tinggi seperti ISI Solo, juga mengkhususkan kearah pelestarian seni tradisi, termasuk mata kuliah lukis kaca. Tetapi usaha-usaha tersebut, belum membuahkan gaung yang mem”booming”, walau telah membumi dipersada Nusantara.

Pengunci kalam

Seperti diisyaratkan oleh peribahasa Jawa “lakon wolak waliking zaman”, usaha membangkitkan kembali keberadaan seniman lukis kaca dari kemeranaan dan kesunyian, perlu diacungi jempol utamanya, usaha yang dilakukan oleh Bentara Budaya Yogjakarta ( 2000 ), dan Bentara Budaya Jakarta ( 2004 ) dengan memamerkan karya pelukis kaca yang berasal dari Jateng dan Yogyakarta , yaitu dari Wonosobo, Wonogiri, Solo, Magelang , Gunungkidul, Ciorebon, Bantul dan Bali, dengan tafsir dan interpretasi baru.

Salah seorang dewan kurator pameran, Ipong Purnomo Sidi menyatakan keyakinannya bahwa, pameran tersebut memang bertujuan untuk menjaga dan merangsang perkembangan lukisan di atas kaca yang cenderung kurang mendapat perhatian publik dibeberapa dasa warsa dewasa ini. Ipong, mengatakan bahwa, seni lukis kaca memang sebuah wilayah kesenian yang tidak populer di dunia global pada sekarang ini, walau untuk menjaga dan melestarikannya bukan perkara mudah. Namun, dalam kasus lukisan di atas kaca, di dalam kesunyian justru perlu ditumbuhkan sebuah usaha revitalitasi atau kebangkitan kembali sebuah karya lukis kaca yang meliputi pembaruan corak, gaya, dan tema, sehingga menghasilkan teknik gambar yang prima dan baru.

Memandang sebelah mata terhadap keberagaman lukisan kaca yang bertebaran di hamper seluruh wilayah Nusantara, merupakan bukti atas ketidakcintaan terhadap budaya asli Indonesia. Maka usaha dari mana dan siapapun, tentang penjagaan dan pelestarian atas masa depan seni lukis kaca di Indonesia, merupakan sebuah usaha yang perlu dicontoh dan perlu mendapatkan perhatian yang besar,agar seni lukis kaca, tidak punah dari bumi Nusantara, dan tidak terlindas oleh seni pop yang hari ini meraja.
Artikel ini juga bisa dibaca di Jurnal Seni LANGO Taman Budaya Jawa Tengah, Edisi V, 2 April-Junni 2010


Sumber rujukan :

- Yudhoseputro, Wiyoso ,1986– Pengantar Seni Rupa islam Nusantara, Angkasa Bandung

- Hermanu, 2006 – Mengenang Tjitro Waloejo, Katalog Bentara Budaya Yogjakarta

- ________ 2000 – Pameran Lukis Kaca, Taman Budaya Yogjakarta

- ________ 1987 – Melukis Dalam Kaca, Editor No.11/ tahun I

- Benny Bunke, 2004- Interpretasi Baru Seni Lukis Kaca, Suara Pembaruan



pintu.Mati@gmail.com.

PERJALANAN FADJAR SOE TARDI





Lahir                            :      Sragen, 16 April 1960
Pendidikan                   :     Seni Rupa IKIP Karangmalang, Yogyakarta(1983)
                                          Program Pelatihan Sendratasik IKIP Semarang ( 1996 )
                                          Seni Rupa UNS Surakarta ( 2000 )


Aktivitas Pameran        :     
Pameran Bersama Mahasiswa Seni Rupa IKIP Yogyakarta di Karta Pustaka, Yogjakarta (1983).Pameran Bersama Mahasiswa KKN UNS di Sumberlawang Sragen (1984).Pameran Lustrum III SMP Negeri 2 Gunungkidul (1986)Pameran Pembangunan Gunungkidul (1987).Pameran Tunggal dalam Muscab Muhammmadiyah Cabang Sumberlawang (1994).Pameran Gerak Spiritual Seni Rupa dan Teater di Clupak,Mojopuro Sumberlawang (1994).Pameran Bersama Pesona Seni Rupa Syahadatain di Masjid Agung Surakarta (1997).Pameran Bersama dalam Musywil Pemuda Muhammadiyah se-Jawa Tengah di Sragen (1998).Pameran Tugas Akhir Mahasiswa Seni Rupa FKIP UNS dalam Kelompok KONGAN di KWU UNS (1999)Pameran Seni Rupa Dies Natalis ke XXXIV STSI Surakarta (2000).Pameran Seni Rupa Komunitas PINTU MATI Surakarta di TBS (2000).Pameran Seni Rupa Islami dalam rangka Maulud Nabi SAW di STSI Surakarta (2001).Pameran Seni Lukis Kreasi Seni RupaAnak Bangsa di Sragen (2003)Pameran seni Rupa Komunitas PINTU MATI di TBS (2003).Pameran Seni Rupa Komunitas PINTU MATI di DKS Surabaya (2003)Pameran Seni Rupa Kelompok HIMPAS Sragen di TBS (2003).Pameran Lukisan Akhir Tahun 2003 se-Eks KaresidenanSurakarta di TBS (2003).Pameran Lukisan dan Patung Jawa Tengah di TBS (2004).Pameran Seni Rupa Komunitas PINTU MATI di Balai Soedjatmoko Toko Buku Gramedia Surakarta (2004)Pameran Seni Rupa Kelompok HIMPAS Sragen di STSI Surakarta (2004).Pameran Seni Rupa Komunitas PINTU MATI di TBS (2006).Pameran Tunggal Kaligrafi FAJAR SUTARDI  dalam Art Living In Allah di TBS,12 – 17 April 2006(2006).Pameran Seni Rupa RAMPOGAN 45 Pelukis Yogya Solo, di TBS 5-15 Mei 2006.Pameran Pelukis se Ex-Surakarta,TBS 2006.Pameran Seni Patung RICARICARI Student Centre UNS,Solo (2006). Pameran Tunggal Drawing Kaligrafi DRAW HIMNELOVE Balai Soedjatmoko,Agustus 2007 (2007).Pameran Seni Rupa FREEDOM TEXT Komunitas Oranye di Taman Budaya Surakarta ( 2007 ).Pameran Seni Rupa 8 Tahun KONTEMPLASTIK Komunitas Pintu Mati Solo, di TBS ( 2008 ).Pameran Seni Rupa Art-Edu[Cation] Dies Natalis UNS di TBS ( 2008 ).Pameran Seni Rupa IKAPSERA di City Walk Solo ( 2008 ).Pameran Seni Rupa Exit : ( Eks-Situs ) Ikapsera FKIP UNS di TBS ( 2008 ).Pameran Akhir Tahun Perupa se-Eks Karesidenan Surakarta di TBS ( 2008 ).Pameran Komunitas Pintu Mati NEGERI BADUT diTaman Budaya Surakarta ( 2009 ).Pameran WONG JAWA ILANG JAWANE Si Balai Soedjatmoko Solo ( 2009 ).Pameran Bersama FKS Balai Pemuda Surabaya ( 2010 ).Visual Art Exibhition Kakawin Kawin Komunitas Pintu Mati, di Taman Budaya Surakarta, Juni ( 2010 ) Pameran Seni Rupa Islami Muktamar Satu Abad, Student Center UMY ( 2010 )
Alamat                          :          FADJAR SOE TARDI
                                               Sanggar Seni Dialog Bumi Pranata
                                                Clupak RT.25/VII,Mojopuro,Sumberlawang,Sragen
                                                57272 HP.081329098293.
                                                Email : fajarredisutta_bumipranata@yahoo.com
                                                Blog : pintu.Mati@gmail.com.


Sabtu, 03 Juli 2010

PAMERAN SENI RUPA ISLAMI MUKTAMAR SATU ABAD MUHAMMADIYAH

Menyambut Muktamar Satu Abad Muhammadiyah Panitia Syiar Muktamar, mengadakan kegiatan Pameran Seni Rupa Islami Muktamar Satu Abad Muhammadiyah, 2-9 Juli 2010 di Student Center Universitas Muhammadiyah Yogjakarta ( UMY ).I salah satu anggota Komunitas Pintu Mati, yang juga Ketua Komite Seni Rupa LSB PDM Kab.Sragen, mendapat undangan untuk ikut serta dalam pameran ini, Ia menampilkan sebuah karya kaligrafi berukuran 135 x 260cm berjudul Komposisi Ayat-ayatMu, dengan media charchoal on canvas. Menurut Syaiful Adnan, seorang pelukis kaligrafi Nasional kita, yang juga sebagai Ketua Pameran mengatakan bahwa, karya Fadjar memang unik, yang berbeda dengan karya perupa lain, kekuatan drawingnya cukup bagus. Sementara Nasirun yang mendampingi Syaiful saat pembukaan pameran, menambahkan bahwa karya Fadjar masuk kategori karya kaligrafi kontemporer.  Pameran  dibuka oleh AM Fatwa, seorang politikus Muslim yang berkenan hadir untuk acara pameran ini. Pameran Seni Rupa Islami ini, diikuti 31 pelukis dan pematung, antara lain Agus Kamal, Amry Yahya ( alm.), Ashady, Bambang Pramono, Elvis, Basrizal Albara, Darvies Rasyidin, Edi Sunarso, Fadjar Sutardi, Godod Sutedjo, Harsono, Hamzah, Hendra Buana, Kamiran Suryadi, Komroden Haro, Syahrizal Koto, Masrizal Koto, Mudjar Sanskerta, Nasirun, Rispul, Susiknan Azhari, Syaiful Adnan, Titik Sidin, Tulus Warsito, Winarso, Yasrul Sami, Yetmon Amir,Yunizar, Zulheiman, Zulkarnaini. Selain itu juga disertakan karya kaligrafi pemenang lomba, yang diadakan 2 Juni lalu, antara lain Merry Suska, Abdul Ghani, Choirudin, Ali Ramadhan, Aan Gunawan dan sebagainya. Menurut salah satu Ketua Pameran, Hamzah, pameran kali ini tidak bertajuk pameran Kaligrafi, tetapi Pameran Islami. Hal tersebut dikandung maksud, agar para seniman yang diundang dapat dengan bebas berkarya dalam menterjemahkan makna ajaran Islam. ( Isty )